SIGMANEWS.ID – Jakarta, Korban erupsi Gunung Semeru terus bertambah seiring meningkatnya aktivitas vulkanik pada Rabu (19/11/2025). Gunung tertinggi di Jawa tersebut memuntahkan material hingga 2.000 meter dari puncak dan diikuti awan panas yang meluncur 13 kilometer ke arah tenggara–selatan. Ratusan warga mengungsi dari desa-desa terdampak, sementara sejumlah lainnya mulai mengalami berbagai gejala kesehatan akibat paparan abu vulkanik dan udara panas.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana melaporkan tiga desa di Kecamatan Pronojiwo dan Candipuro masuk dalam zona terdampak utama: Supit Urang, Oro-Oro Ombo, dan Penanggal. Jumlah pengungsi terus bertambah dan sebagian di antaranya mulai mengeluhkan kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi.
Baca Juga: Kasus Dosen Untag Semarang: Polisi Bongkar Kejanggalan hingga Jejak Anggota Polri di Lokasi
Keluhan di Pengungsian: Potret Nyata Korban Erupsi Gunung Semeru
Memasuki hari ketiga setelah erupsi, para pengungsi mulai menghadapi kondisi sulit. Banyak di antara mereka kehilangan rumah dan pakaian, serta membutuhkan obat-obatan untuk mengatasi gangguan kesehatan.
Anik Hatamah, warga Supit Urang, merasakan langsung dampaknya.
“Sisa satu sendok pun enggak ada. Habis,” katanya sambil menceritakan detik-detik ketika lava mulai turun.
Ia sempat mendapat kabar bahwa “lava kecil berhenti dan aman”, tetapi situasi berubah cepat hingga warga berteriak:
“‘Cepat keluar! Cepat keluar!’ Itu lava sudah turun ke bawah”.
Pengungsi lain, Siti Munamah, juga menyebut kebutuhan susu dan popok bayi mulai menipis.
“Rumahnya enggak ada. blas,” ucapnya singkat.
Sementara itu, tim kesehatan posko melaporkan gejala pusing, sesak napas, dan penyakit kulit mulai dialami para lansia dan balita.
Ahmad Saifuddin dari pos kesehatan mengatakan,
“Banyak keluhan dari lansia … biasanya kalau nggak pusing, kalau nggak gatal-gatal setelah erupsi.”
Penanganan Pendaki dan Situasi Zona Aman
Selain warga, terdapat 187 pendaki yang berada di Ranu Kumbolo saat letusan terjadi. Kepala BB TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha memastikan seluruh pendaki aman karena berada di sisi utara yang tidak dilalui awan panas.
Ia menjelaskan:
“Tapi arah erupsi ke arah selatan dan tenggara. Sementara Ranu Kombolo berada di utara. Jadi kami pastikan lokasi itu cukup aman.”
Karena kondisi gelap dan hujan, pendaki diminta bermalam di Ranu Kumbolo sebelum turun ke Ranupani pada Kamis (20/11). Seluruh pendaki—termasuk petugas dan porter—tiba di pos Ranupani pada pukul 11.45–14.30 WIB dalam keadaan sehat.
Data Pengungsian dan Korban Luka: Pembaruan Penting Korban Erupsi Gunung Semeru
Lebih dari 950 warga mengungsi ke beberapa titik, seperti SD Supiturang, Balai Desa Oro-Oro Ombo, Masjid Ar-Rahman, dan kantor kecamatan. Sebagian warga kembali ke rumah untuk menyelamatkan barang-barang ketika kondisi mereda.
Di sisi lain, jumlah korban erupsi Gunung Semeru mengalami luka bakar meningkat menjadi tiga orang. Dua di antaranya adalah pasangan asal Kediri yang tergelincir di Jembatan Gladak Perak saat jalan tertutup abu panas.
Sekda Lumajang Agus Triyono menjelaskan,
“Korban mengalami luka bakar sekitar 20 persen … kendaraan tergelincir akibat jalanan licin dan tertutup awan panas Semeru.”
Korban ketiga, Dimas, mengalami luka bakar grade 1 dan telah dirawat di fasilitas kesehatan.
Penetapan Tanggap Darurat: Langkah Pemerintah Menghadapi Korban Erupsi Gunung Semeru
Pemkab Lumajang menetapkan status tanggap darurat selama 7 hari untuk mempercepat mobilisasi SAR, tenaga medis, dan logistik. Status ini memungkinkan penggunaan dana darurat tanpa prosedur panjang serta pembukaan posko bantuan di berbagai titik.
Bupati Lumajang menekankan bahwa warga harus tetap siaga menghadapi potensi erupsi susulan, terutama mereka yang berada dalam radius 8 km dari puncak atau sepanjang Besuk Kobokan.
Catatan Historis dan Pola Aktivitas
Gunung Semeru dikenal memiliki pola erupsi yang berubah-ubah dan sulit diprediksi. Catatan vulkanologi menunjukkan gunung ini telah meletus ribuan kali sepanjang 2025 dan memiliki sejarah panjang letusan sejak abad ke-19.
Tragedi terburuk tercatat pada tahun 1909 ketika aliran lahar dan material vulkanik menimbulkan kerusakan besar serta ratusan korban jiwa. Cerita-cerita dari masa lalu itu mengingatkan bahwa mitigasi dan kesiapsiagaan tetap menjadi kunci untuk meminimalkan risiko di masa kini.
