SIGMANEWS.ID – Jakarta, Risiko megaquake Jepang kembali menjadi perhatian serius setelah serangkaian gempa bumi mengguncang berbagai wilayah dalam beberapa hari terakhir. Aktivitas seismik yang terjadi secara beruntun meningkatkan kewaspadaan otoritas dan ilmuwan, terutama karena sejumlah gempa tercatat di zona tektonik yang dikenal berpotensi memicu gempa besar.
Alan Yong, Koordinator Studi Gempa Bumi Survei Geologi Amerika Serikat (USGS)-Jepang, menegaskan bahwa gempa bermagnitudo menengah memang umum terjadi di Jepang. Namun, lokasi gempa terbaru dinilai perlu dicermati secara khusus.
“Kepulauan Jepang adalah wilayah yang sangat aktif secara seismik. Gempa bermagnitudo 4 sering terjadi. Namun beberapa gempa baru-baru ini berada di dekat Palung Ryukyu dan Nankai, daerah di mana gempa yang jauh lebih besar bisa terjadi,” ujarnya.
Menurut Yong, kawasan tersebut memiliki sejarah gempa besar berkekuatan sekitar magnitudo 8 yang terjadi pada 1910, 1920, 1944, dan 1946. Meski jarang, potensi kejadian serupa tetap ada.
Baca Juga: Viral! Bantuan Shin Tae-yong Untuk Korban Banjir Sumatra Disambut Antusias
Risiko Megaquake Jepang Terlihat dari Lonjakan Aktivitas Seismik
Aktivitas seismik yang intens tercatat di sejumlah wilayah, terutama Jepang selatan dan timur laut. Di Kepulauan Tokara, gempa bermagnitudo 5,5 sempat terjadi dan mendorong sebagian warga mengungsi secara sukarela ke daratan utama, meski tidak ada laporan korban jiwa.
Dalam rentang waktu singkat, beberapa gempa berkekuatan menengah terjadi di lokasi yang berjauhan. Dua gempa magnitudo 4,1 dan 4,4 tercatat di dekat Kepulauan Izu dalam selang enam jam. Sementara itu, gempa magnitudo 5,1 mengguncang wilayah sekitar 78 mil di timur Ohara.
Di wilayah utara Jepang, gempa magnitudo 5,4 terjadi di lepas pantai Hachinohe, disusul gempa 4,3 keesokan harinya. Aktivitas serupa juga terdeteksi di perairan dekat Shikotan, Rusia, yang berdekatan dengan wilayah Jepang.
Meski belum memicu kerusakan besar atau tsunami signifikan, peningkatan frekuensi dan kekuatan gempa memicu kekhawatiran akan risiko megaquake Jepang yang lebih besar.
Fenomena “Overshoot” Lempeng Tektonik
Kekhawatiran tersebut diperkuat oleh hasil penelitian tim ilmuwan Jepang yang menganalisis gempa besar di dekat Semenanjung Kamchatka pada Juli lalu. Gempa bermagnitudo 8,8 tersebut terjadi di area yang hampir sama dengan gempa magnitudo 9 pada 1952.
Profesor Yagi Yuji dari Universitas Tsukuba menjelaskan bahwa analisis gelombang seismik menunjukkan pergeseran maksimum mencapai sekitar 12 meter di batas pertemuan lempeng samudra dan lempeng benua. Padahal, akumulasi konvergensi lempeng selama 73 tahun diperkirakan hanya sekitar 6 meter.
Para peneliti menyimpulkan adanya fenomena yang disebut “overshoot”, yaitu kondisi ketika pergeseran lempeng saat gempa melebihi keseimbangan tegangan normal.
Fenomena ini diyakini juga terjadi pada megagempa Tohoku 2011 dan berpotensi memperpendek interval terjadinya megagempa berikutnya. Yagi memperingatkan bahwa kondisi serupa dapat terjadi di Palung Nankai, Palung Chishima, dan Palung Sagami.
Risiko Megaquake Jepang Picu Kesiapsiagaan Pemerintah dan Warga
Kewaspadaan meningkat setelah gempa bermagnitudo 7,6 mengguncang pantai utara Jepang, yang sempat memicu peringatan tsunami. Gelombang setinggi puluhan sentimeter terpantau di beberapa pesisir, meski peringatan kemudian diturunkan.
Puluhan ribu warga sempat mengungsi, layanan kereta dihentikan, dan ribuan rumah mengalami pemadaman listrik. Namun hingga kini, tidak ada laporan kerusakan struktural besar atau korban jiwa dalam jumlah signifikan.

Pemerintah Jepang membentuk kantor respons darurat dan mengerahkan tim tanggap bencana. Warga di wilayah terdampak diminta tetap waspada setidaknya selama satu minggu ke depan karena kemungkinan gempa susulan masih ada.
Pentingnya Kesiapsiagaan Jangka Panjang
Sebagai negara di pertemuan beberapa lempeng aktif, Jepang menjadikan mitigasi bencana sebagai prioritas nasional. Sistem peringatan dini, jalur evakuasi, hingga edukasi publik terus diperkuat.
Profesor Yagi menekankan bahwa masyarakat tidak boleh merasa aman hanya karena gempa besar baru saja terjadi.
Ia mengingatkan bahwa risiko megaquake Jepang selalu ada dan dapat terjadi kapan saja, sehingga kesiapsiagaan individu tetap menjadi kunci utama keselamatan.
Pemerintah pun terus mengimbau warga untuk memastikan furnitur terpasang aman, menyiapkan tas darurat, serta memahami rute evakuasi di wilayah masing-masing. Dalam kondisi seismik yang terus aktif, kewaspadaan dinilai sebagai langkah paling realistis untuk meminimalkan dampak bencana di masa depan.
