SIGMANEWS.ID – Jakarta, Puting beliung Jakarta menerjang sejumlah wilayah di Ibu Kota pada Jumat (12/12/2025) petang dan memicu kepanikan warga. Fenomena cuaca ekstrem ini berlangsung singkat, namun cukup kuat hingga menyebabkan pohon tumbang, fasilitas umum rusak, serta kendaraan mengalami kerusakan.
Baca Juga: Terungkap! Bos Terra Drone Ditangkap Terkait Kebakaran Maut
Puting Beliung Jakarta di Ancol Sebabkan Pohon dan Tenda Roboh
Peristiwa puting beliung Jakarta paling terasa di kawasan Ancol, Jakarta Utara. Angin kencang yang berlangsung sekitar tiga menit terekam warga dan menyapu area wisata tersebut. Beberapa pohon tumbang hampir menutup akses jalan menuju Ancol, sementara sebuah tenda taman roboh akibat terpaan angin.
Meski berlangsung singkat, dampaknya sempat menghambat arus kendaraan dan memerlukan penanganan cepat dari petugas di lapangan. Tidak ada laporan korban jiwa maupun luka dalam kejadian ini.
Kerusakan di Jakarta Pusat
Dampak puting beliung Jakarta juga dirasakan di wilayah Jakarta Pusat. Di kawasan Sawah Besar, sebuah pohon berukuran besar tumbang dan menimpa rumah warga. Suara gemuruh keras disertai atap dapur yang porak-poranda membuat penghuni rumah langsung menyelamatkan diri ke luar.
Petugas Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan sektor setempat segera diterjunkan untuk melakukan evakuasi dan penanganan pohon tumbang. Tidak ada korban jiwa maupun luka dalam peristiwa tersebut.
Sementara itu, di kawasan Menteng, tepatnya sekitar Masjid Sunda Kelapa, hujan deras dan angin kencang menyebabkan pohon tumbang dan menimpa enam mobil yang sedang terparkir. Akibatnya, bagian atas dan depan kendaraan mengalami kerusakan cukup parah.
Pemprov Tingkatkan Kesiapsiagaan
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan bahwa pemerintah daerah terus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana, termasuk puting beliung Jakarta, banjir rob, dan hujan ekstrem.
“Alhamdulillah baik kemarin puting beliung, rob, hujan yang tinggi, banjir, pohon roboh seperti pohon roboh di dekat Masjid Sunda Kelapa segera kita tangani dengan baik,” kata Pramono.
Ia meminta masyarakat tidak hanya fokus menyalahkan cuaca ekstrem, melainkan turut aktif berperan dalam upaya mitigasi bencana. Pemerintah, menurutnya, secara rutin menyampaikan peringatan dini jika terdapat potensi bencana di Jakarta.
“Termasuk sebenarnya yang puting beliung kemarin, yang terjadi di Ancol, kami sudah umumkan juga,” katanya.
Puting Beliung Jakarta Berkaitan dengan Cuaca Ekstrem dan Rob
Dalam beberapa pekan terakhir, wilayah pesisir utara Jakarta juga kembali dilanda banjir rob. Puluhan RT sempat tergenang akibat pasang maksimum air laut yang bertepatan dengan fase bulan purnama dan perigee, sehingga ketinggian muka laut meningkat.
Genangan air laut sempat masuk ke sejumlah ruas jalan dan permukiman, namun sebagian besar surut setelah beberapa jam. Kondisi ini memperlihatkan bahwa cuaca ekstrem, termasuk puting beliung Jakarta, masih berpotensi terjadi dan memerlukan kewaspadaan bersama.
Pemerintah Diminta Fokus Lindungi Warga Pesisir
Banjir rob yang berulang di wilayah pesisir dinilai bukan sekadar genangan musiman. Ketua Fraksi PKB DPRD DKI Jakarta, Fuadi Luthfi, menilai kondisi tersebut menjadi peringatan serius terkait perlindungan warga pesisir yang paling rentan terdampak.
“Banjir rob bukan peristiwa musiman yang bisa kita anggap wajar. Kita sedang berpacu dengan waktu untuk melindungi ratusan ribu warga di utara Jakarta. Setiap kali penanganan terlambat, rumah, penghidupan, dan masa depan warga pesisir yang menanggung risikonya,” kata Fuadi.
Ia mengusulkan tiga prioritas penanganan, mulai dari percepatan pembangunan tanggul pantai dan polder, perlindungan bagi kelompok rentan seperti nelayan dan buruh pelabuhan, hingga pembenahan akar persoalan seperti penggunaan air tanah dan penataan ruang.
Antisipasi Puting Beliung Jakarta Perlu Kolaborasi
Fuadi menegaskan bahwa penanganan rob dan dampak cuaca ekstrem, termasuk puting beliung Jakarta, tidak bisa dibebankan pada satu lembaga saja. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, hingga tokoh keagamaan.
“Ini bukan urusan satu institusi atau sekadar soal teknis. Ini menyangkut hak warga untuk hidup di lingkungan yang aman dan bermartabat,” ujarnya.
Dengan cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi, pemerintah dan masyarakat diharapkan terus meningkatkan kesiapsiagaan agar dampak bencana dapat diminimalkan dan keselamatan warga tetap terjaga.
