SIGMANEWS.ID – Jakarta, Krisis medis Gaza semakin memperlihatkan dampak kemanusiaan yang mengkhawatirkan setelah Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan sedikitnya 1.092 pasien Palestina meninggal dunia saat menunggu evakuasi medis dari Jalur Gaza dalam periode Juli 2024 hingga November 2025 akibat pembatasan perlintasan. Angka tersebut diyakini lebih rendah dari kondisi sebenarnya, sementara ribuan pasien lain masih terjebak tanpa akses layanan penyelamatan nyawa.
Direktur Jenderal World Health Organization, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan bahwa sejak Oktober 2023 pihaknya bersama mitra telah mengevakuasi lebih dari 10.600 pasien, termasuk 5.600 anak. Namun, kebutuhan evakuasi medis masih jauh melampaui kapasitas yang tersedia.
Baca Juga: Darurat! Risiko Megaquake Jepang Picu Tsunami dan Ancaman Nuklir
Krisis Medis Gaza Lumpuhkan Sistem Kesehatan
Sistem kesehatan di Jalur Gaza kini berada dalam kondisi hampir lumpuh akibat agresi berkepanjangan, kerusakan fasilitas medis, serta kelangkaan obat-obatan dan bahan bakar. Banyak rumah sakit tidak lagi mampu memberikan layanan penting seperti pengobatan kanker, cuci darah, operasi kompleks, dan perawatan intensif.
WHO menegaskan bahwa keterlambatan serta pembatasan evakuasi medis terus merenggut nyawa, terutama anak-anak dan pasien dengan penyakit kronis yang membutuhkan penanganan lanjutan di luar Gaza.
Anak dan Ibu Jadi Kelompok Paling Rentan
Kementerian Kesehatan Gaza mencatat sekitar 1.500 anak masih menunggu pembukaan perbatasan untuk mendapatkan perawatan medis di luar wilayah tersebut. Selain itu, sekitar 110.000 anak mengalami malnutrisi, termasuk 9.500 anak dengan kondisi gizi buruk akut.
Data juga menunjukkan bahwa 42 persen ibu hamil menderita anemia. Peningkatan angka kematian anak dilaporkan seiring runtuhnya layanan kesehatan dasar dan terbatasnya akses perjalanan medis.
WHO menyerukan agar lebih banyak negara bersedia menerima pasien Gaza serta mendesak pemulihan jalur evakuasi medis ke Tepi Barat dan Al-Quds bagian timur.
Krisis Medis Gaza Diperparah Kelangkaan Obat dan Alat Kesehatan
Krisis obat-obatan di Gaza semakin parah akibat pembatasan masuknya pasokan medis. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa lebih dari separuh daftar obat esensial telah habis dari gudang pusat.
“Jumlah barang yang benar-benar habis stok dalam daftar obat-obatan esensial telah mencapai 321, yang mewakili kekurangan sebesar 52 persen,” ujar pernyataan Kementerian Kesehatan.
“Jumlah barang yang habis stok dalam daftar perlengkapan medis telah mencapai 710, yang mewakili kekurangan sebesar 71 persen. Tingkat kekurangan tes laboratorium dan perlengkapan bank darah mencapai 59 persen,” tambah dia.
Kekurangan paling parah terjadi pada layanan gawat darurat, perawatan intensif, ginjal, onkologi, bedah jantung terbuka, serta ortopedi.
“Mengingat angka-angka mengkhawatirkan ini, dan terus menurunnya jumlah truk medis yang diizinkan masuk ke Gaza hingga kurang dari 30 persen dari kebutuhan bulanan, serta keterbatasan pasokan yang tersedia, Kementerian Kesehatan mendesak semua pihak untuk memikul tanggung jawab mereka dalam segera melakukan intervensi darurat,” demikian pernyataan tersebut.
Picu Peringatan Kematian Massal
Laporan Kementerian Kesehatan Gaza memperingatkan keterbatasan layanan gawat darurat. Kondisi ini berpotensi membuat sekitar 200.000 pasien kehilangan akses perawatan darurat. Selain itu, 100.000 pasien terancam kehilangan layanan bedah. Sedikitnya 700 pasien juga tidak mendapatkan perawatan intensif.
Seorang pejabat Kementerian Kesehatan Gaza menyebut lebih dari 1.200 pasien telah meninggal dunia. Dari jumlah tersebut, 155 di antaranya adalah anak-anak. Kematian terjadi karena pasien gagal dievakuasi untuk memperoleh perawatan medis yang layak.
Di tengah krisis ini, WHO kembali menegaskan bahwa nyawa manusia harus menjadi prioritas utama. Organisasi tersebut mendesak dibukanya akses penuh bagi pasokan medis. WHO juga meminta evakuasi pasien dilakukan tanpa penundaan.
