SIGMANEWS.ID – Jakarta, Kerugian bencana Sumut akibat banjir bandang dan tanah longsor terus bertambah dan kini telah menembus angka lebih dari Rp 17 triliun. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menyebut angka tersebut meningkat signifikan seiring pendataan lanjutan di berbagai sektor terdampak.
“Update minggu lalu Rp 12 triliun, sekarang kita hitung sudah lebih Rp 17 triliun,” kata Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution saat diwawancarai di Kota Medan, Senin (15/12/2025).
Baca Juga: Darurat! Banjir Bandang Maroko Tewaskan Puluhan Warga
Kerugian Bencana Sumut Tak Hanya Infrastruktur
Bobby menjelaskan kerugian bencana Sumut tidak hanya berasal dari kerusakan jalan dan jembatan, tetapi juga menyentuh sektor pertanian serta fasilitas publik.
“Ada sawah terdampak, ada yang gagal panen, ada jembatan putus, sekolah, rumah sakit,” ucap Bobby.
Ia menambahkan, sektor kesehatan menjadi salah satu penyumbang kerugian terbesar karena bukan hanya bangunan yang rusak, melainkan juga peralatan medis yang terendam banjir.
“Nah, rumah sakit mungkin bukan hanya bangunannya. Alat kesehatanya yang terendam segala macam dihitung lebih dari 17 triliun,” tambahnya.
Rincian Kerugian Bencana Sumut di Berbagai Sektor
Dalam pendataan awal, kerugian bencana Sumut sempat diperkirakan sebesar Rp 9,98 triliun. Angka tersebut mencakup kerusakan rumah warga, jalan, bendungan, hingga lahan pertanian.
“Estimasi kerugian sampai dengan hari ini ya, karena masih ada yang belum terhitung, itu kurang lebih ada Rp 9,98 triliun. Baik rumah, jalan, dam lahan pertanian, semuanya,” ujar Bobby.
Seiring pendataan lanjutan, kerusakan teridentifikasi di puluhan ruas jalan nasional dan provinsi, jembatan, saluran irigasi, tanggul, serta lahan pertanian dan perkebunan yang terdampak puluhan ribu hektar. Sektor peternakan, pendidikan, kesehatan, rumah ibadah, hingga permukiman warga juga mengalami kerusakan signifikan.
Picu Prioritas Pembukaan Akses
Bobby menegaskan penanganan darurat difokuskan pada pembukaan akses infrastruktur agar distribusi logistik dan alat berat bisa berjalan optimal. Pada fase awal bencana, hampir seluruh wilayah terdampak mengalami kesulitan logistik akibat akses terputus.
“Kemarin saya sampaikan dari awal kebutuhan di daerah yang terdampak bencana masih seragam semua, percepatan logistik karena terdampak bencana kemarin tidak dapat mengakses logistik nya. Jadi hampir semua seragam awalnya ya,” ujarnya.
Namun, kebutuhan tiap daerah kini mulai berbeda.
“Tapi hari ini berjalannya waktu kebutuhan daerah sudah berbeda, ada yang membutuhkan percepatan akses seperti di Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan. Ada yang butuh air bersih. Karena mungkin daerahnya sudah tidak terlalu terdampak lagi tapi akses air bersihnya tidak ada. Ini perlu disuplai. Perbaikan secara cepat seperti di Langkat tanggulnya kalau tidak diperbaiki dalam waktu dekat airnya masuk terus,” jelasnya.
Kerugian Bencana Sumut Masih Terus Dihitung
Menurut Bobby, pembukaan akses jembatan menjadi kunci utama dalam percepatan pemulihan. Saat ini personel dan logistik sudah dapat menjangkau hampir seluruh wilayah, meski sejumlah desa masih terisolasi untuk kendaraan berat.
“Yang pasti paling utama membuka akses infrastruktur jembatan agar dilakukan perbaikan secara cepat agar akses ya terbuka. Alat berat di desa yang terisolir, terisolir pembersihan ya. Tapi kalau personel, logistik sudah bisa diakses semua. Hanya untuk kendaraan berat itu terisolir,” ucapnya.
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara juga telah memperpanjang masa tanggap darurat hingga 24 Desember 2025 dan menegaskan komitmen untuk mempercepat penanganan serta pemulihan pascabencana.
“Kami dari pemprov akan berupaya penuh terus mempercepat penanganan bencana di Provinsi Sumut,” kata Bobby.
